Kamis, 16 April 2020

Pendahuluan

Assalamualaikum. Wr. Wb.

Apa kabar anak-anakku sekalian? Bertemu lagi dengan ibu kali ini pembelajaran kita dalam bentuk blog. Ingat ya untuk selalu stay at home, belajar di rumah, dan kita doakan bersama semoga covid-19 ini segera berakhir seiring datangnya bulan suci Ramadhan. Sehingga kita bisa beraktivitas kembali dan belajar tatap muka seperti biasa. Amiin

Pada pertemuan kali ini kita akan belajar tentang materi terakhir Fisika di kelas XI semester genap ini yaitu Pemanasan Global. Ibu yakin kalian pasti sudah mendengar tentang materi kita ini atau yang lebih dikenal dengan global warming. Yuk kita simak bersama artikel yang ibu ambil dari Republika berikut ini.
https://lingkunganhidup.co/pengertian-pemanasan-global-penyebab-dampak/

GAS RUMAH KACA MENINGKAT
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kabar mengenai perubahan iklim dan pemanasan global, tak bisa lagi dianggap sebagai isapan jempol. Sebuah studi dari Universitas Bristol menyebutkan, gas rumah kaca meningkat secara tak terduga di atmosfer. Gas rumah kaca dapat menyebabkan pemanasan 12.000 kali lebih banyak per ton daripada karbon dioksida.
Dilansir di laman CBC News, Rabu (22/1), studi yang dipimpin oleh peneliti tamu universitas itu, Kieran Stanley melaporkan, produsen utamanya adalah Cina dan India. Namun, kedua negara itu merupakan negara yang paling banyak menghilangkan emisi gas.

Stanley melakukan pengambilan data dengan melakukan pengukuran gas atmosfer di lima stasiun di seluruh dunia. Hasilnya menunjukkan bahwa emisi HFC-23 atau trifluorometana mencapai rekor tertinggi pada 2018 dari 15.900 ton.

Menurut Nature Communications, angka itu jauh lebih tinggi sekitar 2.400 ton emisi gas yang dilaporkan oleh Cina dan India untuk Program Lingkungan PBB pada 2017 lalu. HFC-23 adalah produk sampingan dalam produksi refrigeran HCFC-22, yang merupakan gas rumah kaca dan menghabiskan lapisan ozon.

Berdasarkan laporan Cina dan India, para ilmuwan telah memperkirakan tingkat HFC-23 turun 90 persen antara 2015 dan 2017 dalam pengukuran oleh Eksperimen Gas Atmosfer Global Lanjut. Meskipun demikian, para peneliti memperkirakan  perbedaan antara emisi yang dilaporkan dan yang diukur selama periode itu, setara dengan semua emisi karbon Spanyol selama satu tahun.

"Studi kami menemukan bahwa sangat mungkin bahwa Cina belum berhasil mengurangi emisi HFC-23 seperti yang dilaporkan," kata Stanley dalam rilis berita dari Universitas Bristol.

Sebagai alternatif, atau tambahan, kata dia, kemungkinan ada produksi HCFC-22 yang tidak dilaporkan secara substansial di lokasi yang tidak diketahui. Hal itu mengakibatkan produk sampingan HFC-23 yang tidak dilaporkan, dibuang ke atmosfer.

HFC-23 yang diproduksi selama pembuatan HCFC-22 secara tradisional dilepaskan ke atmosfer. Di bawah perjanjian internasional untuk melindungi lapisan ozon, Protokol Montreal dan Amandemen Kigali 2016, HFC-23 yang dihasilkan seharusnya dihancurkan.

Namun, penghentian ini lebih lambat untuk negara-negara berkembang, seperti Cina dan India. Aturan ini juga belum secara resmi berlaku.

Meskipun demikian, kedua negara melaporkan pengurangan. India mengeluarkan peraturan pada 2016 yang mensyaratkan pembakaran HFC-23.  Para penulis studi baru mengatakan lebih banyak pengukuran regional diperlukan untuk memverifikasi apakah itu benar-benar terjadi.


(Sumber: https://republika.co.id/berita/q4jguw368/gas-rumah-kaca-meningkat-di-atmosfer)


Nah demikianlah tadi artikel yang membahas tentang pemanasan global. Penasaran kan? Ingin lebih tahu lebih lanjut tentang materi ini. Yuk kita masuk ke  pertemuan 1.


20 komentar:

  1. Kereeeeennn...
    Pembelajaran menarik ya untuk siswa.

    BalasHapus
  2. Makasih ibu ilmu pengetahuan nya

    BalasHapus
  3. Terima kasih komentarnya anak-anakku. Semoga bermanfaat untuk menambah wawasan dan pengetahuan kalian tentang Pemanasan Global.

    Yang kasih komentar boleh cantumin nama ya. Ibu lihat unknown semua ini.

    BalasHapus
  4. Bagus bu, gampang dipahami

    BalasHapus
  5. Sering sering buu mantapπŸ‘πŸ»

    BalasHapus